Taman Nasional Ujung Kulon, Warisan Alam Dunia

Rabu, 01 Februari 2017

Taman Nasional Ujung Kulon, Warisan Alam Dunia

Rhinoceros sondaicus (Badak Jawa)
Rhinoceros sondaicus. Saat ini, populasi Badak Jawa adalah sekitar tidak lebih dari lima puluh di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
F. Junghun pertama kali mengenalkan kawasan Ujung Kulon pada Tahun 1846, ia seorang ahli botani yang saat itu sedang mengumpulkan tumbuhan tropis.

Pada masa itu kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon sudah mulai dikenal oleh para peneliti. Bahkan perjalanan ke Ujung Kulon ini sempat masuk di dalam jurnal ilimiah beberapa tahun kemudian.

Tidak banyak catatan mengenai Ujung Kulon sampai meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut kemudian menghasilkan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 15 meter hingga memporak-porandakan pemukiman penduduk di Ujung Kulon, satwa liar dan vegetasi yang ada.

Meskipun letusan Krakatau telah menyapu bersih kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwa liar di Ujung Kulon tumbuh baik dengan cepat.

Lintasan Sejarah Terbentuknya Taman Nasional Ujung Kulon

Sebelum menjadi Taman Nasional Ujung Kulon, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi.

Pada Tahun 1921, berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan The Netherlands Indies Society for The Protectin of Nature, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Kawasan Suaka Alam melalui SK Pemerintah Hindia Belanda Nomor : 60 Tanggal 16 Nofember 1921.

Tahun 1937, Besluit Van Der Gouverneur – General Van Nederlandch – Indie dengan keputusan Nomor : 17 Tanggal 24 Juni 1937 menetapkan status kawasan Suaka Alam tersebut kemudian diubah menjadi Kawasan Suaka Margasatwa dengan memasukkan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Tahun 1958, berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor : 48/Um/1958 Tanggal 17 April 1958 Kawasan Ujung Kulon berubah status kembali menjadi Kawasan Suaka Alam dengan memasukkan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah.

Tahun 1967, melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 16/Kpts/Um/3/1967 Tanggal 16 Maret 1967 Kawasan Gunung Honje Selatan seluas 10.000 Ha yang bergandengan dengan bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon ditetapkan menjadi Cagar Alam Ujung Kulon.

Tahun 1979, melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 39/Kpts/Um/1979 Tanggal 11 Januari 1979 Kawasan G. Honje Utara seluas 9.498 Ha dimasukkan ke dalam wilayah Cagar Alam Ujung Kulon.

Tahun 1992, melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 284/Kpts-II/1992 Tanggal 26 Februari 1992, Ujung Kulon ditunjuk sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dengan luas total 122.956 Ha terdiri dari kawasan darat 78.619 Ha dan perairan 44.337 Ha.

Dalam hal penegasan batas-batas hutan negara, perkembangan penataan batasnya adalah sebagai berikut:


Tahun 1980, dilaksanakan Tata Batas di Cagar Alam G. Honje, Berita Acara Tata Batas pada Tanggal 26 Maret 1980, dan disyahkan Tanggal 2 Februari 1982 oleh Menteri Pertanian.

1. Tahun 1995:
Dilaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon wilayah Gunung Honje oleh BAdan Planologi Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan Pemerintah New Zeland melaksanakan pemasangan 1 (satu) Unit Rambu suar, dan 5 (lima) pelampung sebagai batas perairan laut.

2. Tahun 1999:
  • Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pemasangan Rambu suar kuning di Tanjung Alang-alang dan pemancangan titik referensi di Tanjung Sodong, Tanjung Layar, Tanjung Alang-alang, Tanjung Parat dan Tanjung Cina.
  • Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pengukuran batas alam Pantai Semenanjung Ujung Kulon.
  • Sesuai SK Mentri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 758/Kpts-II/1999 Tanggal 23 September 1999 menetapkan kawasan Perairan Taman Nasional Ujung Kulon seluas 44.337Ha sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan.
3. Tahun 2004,
Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI JAwa-MAdura melaksanaan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon di daerah Gunung Honje.

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai kawasan yang dilindungi berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, telah mendapat pengakuan sebagai kawasan yang penting dan dibanggakan secara nasional dan internasional.

Taman Nasional Ujung Kulon, Kebanggaan Milik Dunia


Tahun 1992, Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site dengan Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.

Sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup (dalam Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional).

Sebagai Taman Nasional Model berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK 69/IV-Set/HO/2006 tanggal 3 Mei 2006 Tentang Penunjukan 20 (Dua Puluh) Taman Nasional Sebagai Taman Nasional Model.

Letak Geografis Dan Ekosistem


Terletak di ujung Jawa Barat tepatnya di Ujung Jaya Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Pandeglang-Banten, secara geografis antara 06°52'17"LU 105°02'32"BT dan 06°30'43"LU 105°37'37"BT, dengan luas sekitar 122.956 Ha dan sebagian (443 Km) adalah Lautan.
Taman nasional ujung kulon memiliki 3 (tiga) tipe ekosistem daratan, pesisir pantai dan laut. Ketiganya saling memiliki ketergantungan sehingga membentuk dinamika proses interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  • Ekosistem daratan terdiri dari Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, dan Pulau Panitan.
  • Ekosistem Pesisir terdapat disepanjang pesisir pantai dan hutan Mangrove
  • Ekosistem Laut terdiri dari terumbu karang dan padang lamun yang terdapat diwilayah semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeleum, Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan.
Ekosistem daratan merupakan hutan hujan tropis dataran terendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta menjadi lokasi yang ideal untuk kelangsungan hidup Badak Jawa yang sudah sangat sedikit populasinya di Indonesia sehingga sangat dilindungi. 
Bukan hanya badak jawa saja yang menempati Taman Nasional Ujung Kulon, terdapat beberapa hewan lain juga seperti Banteng, Macan Tutul, Kucing Batu, merak hijau, Rusa dan masih banyak lagi.

Ekosistem Pesisir di Ujung Kulon terdiri dari hutan pantai dan hutan mangrove dibagian sisi timur Semenanjung Ujung Kulon.

Keanekaragaman satwa dan tumbuhan langka menarik perhatian para peneliti dari berbagai Negara didunia, tidak heran mengapa UNESCO mengakuinya sebagai Taman Nasional Warisan Dunia.

Masyarakat Sekitar Taman Nasional Ujung Kulon


Masyarakat yang tinggal disekitarnya adalah suku asli Banten, bahasa yang digunakan adalah bahasa sunda. Mereka beragama Islam namun masih kental dengan tradisi nenek moyang mereka. Mata pencaharian mereka kebanyakan sebagai nelayan, berkebun dan ada banyak juga yang menyediakan jasa Wisata, guide, dan bekerja ditambak udang.

Tempat Wisata Favorit Di Banten


Kata Banten sudah sangat populer diseluruh Pulau jawa, sebagian mengenal banten adalah tempat para jawara yang memiliki kekuatan ilmu ghaib tinggi, banyak orang dari berbagai daerah yang datang ke Banten hanya untuk mencari Ilmu ghaib baik untuk menjaga diri maupun yang lainnya.

Taman Nasional Ujung Kulon terbilang lengkap dengan wisata keindahan alamnya. Terlepas dari hal-hal jawara dan hal-hal ghaib lainnya Banten memiliki pesona Alam yang sangat indah dan budaya yang masih bertahan didalam perkembangan saat ini.

Baduy adalah salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Banten, dengan budayanya yang masih kental akan adat, istiadat dan kearifan lokal dari jaman dahulu kala yang tidak berubah sedikitpun sampai detik ini.

Berbeda dengan Baduy, Ujung Kulon tidak menjual adat istiadat melainkan Pesona alam yang sangat lengkap dengan segala keanekaragaman flora dan fauna.

Alam yang masih asri dan terjaga menghadirkan keindahan lukisan yang bisa kita rasakan. Hutan hujan tropis terbentang luas, garis pantai dengan pasir putih yang halus, terumbu karang yang beraneka ragam jenisnya, ribuan jenis flora dan fauna menjadikan semenanjung Ujung Kulon sebagai destinasi wisata yang sangat lengkap.

Terdapat 2 (dua) Gunung di Ujung Kulon, Gunung Honje dan Gunung Raksa yang berada di Pulau Panaitan. Sebenarnya Gunung Raksa adalah bukit terbesar yang ada di Pulau Panaitan.

Wisatawan yang datang ke Ujung Kulon bukan hanya untuk menikmati keindahan Alamnya saja, melainkan ada juga yang datang untuk berziarah ke Sanghiang Sirah. Sanghyang Sirah merupakan tempat petilasan Sayidina Ali. Konon disini menjadi tempat bergurunya Kian santang kepada sayidina Ali Bin Abu Thalib.

Dilokasi tersebut juga banyak peninggalan-peninggalan jaman dahulu kala yang kini dianggap keramat bukan hanya oleh orang-orang Ujung Kulon saja melainkan orang-orang diluar Ujung Kulon juga mengakuinya.

Pada perayaan Islam seperti Idul Fitri, Maulid Nabi, dan lain-lain Sanghyang Sirah banyak didatangi rombongan Pezirah dari berbagai daerah.

Butuh waktu yang tidak singkat untukbisa mencapai Sanghyang Sirah butuh waktu 1 (satu) minggu melalui jalan darat jalurnya yang berbukit, melewati muara dan pantai.

Namun bagi Peziarah yang memiliki uang lebih dan waktu yang tidak banyak mereka berangkat melalui jalur laut dengan menggunakan kapal Wisata yang disewakan oleh penduduk setempat berangkat dari Sumur atau Desa Taman jaya hanya memerlukan 3jam waktu perjalanan laut, dan 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki.

Tidak heran setiap Week end ataupun libur panjang Taman nasional ini selalu penuh dengan para pengunjung yang datang dari berbagai daerah bahkan turis mancanegara pun sering berkunjung ke sini. Hanya butuh waktu 4-5 jam dari jakarta untuk sampai di daerah Sumur atau Taman jaya yang menjadi titik awal wisata di Ujung Kulon.

Ujung Kulon juga menjadi tempat mahasiwa kehutanan melakukn kegiatan PKL, lembaga-lembaga yang bergerak dibidang kelestarian alam juga menjadika Ujung Kulon sebagai destinasi utama yang akan mereka riset.

Selain Sumur, desa Taman Jaya adalah pintu masuk utama, dengan fasilitas pusat informasi, dan dermaga. Di desa inilah para pengunjung berkumpul dan memulai perjalanan baik wisata gunung, ataupun wisata bahari

Spot Mancing Ujung Kulon


Jika anda bertanya kepada angler Indonesia tentang spot mancing, ujung kulon pasti akan terucap dari mulut para angler sebagai tempat mancing unggulan.

Para mancing mania pasti tidak hanya sekali datang ke Ujung Kulon untuk merasakan perlawanan ikan-ikan disemenanjung Ujung Kulon.

Hampir setiap minggu ada saja para angler yang datang kesini untu sekedar menyalurkan hobinya atau mencoba trik-trik baru yang mereka pelajari karena ikan-ikan disini sangar beragam jenisnya. Dengan menggunakan kapal wisata dan GPS para pemancing hanya tinggal menentukan jenis ikan apa yang ingin mereka dapatkan.

Bahkan setiap satu tahun sekali Taman Nasional Ujung Kulon diadakan perlombaan memancing Piala Presiden yang diselenggarakan oleh Taman Nasional Ujung Kulon. Peserta yang mendaftarpun bukan hanya pemancing lokal, para angler dari mancanegarapun ada yang ikut serta dalam lomba tersebut.

Tidak ada Habisnya jika membahas Ujung Kulon, Surga tersembunyi di Pulau Jawa ini memberikan pesona yang kuat bagi semua yang datang untuk kembali lagi.

Adalah Tanam Nasional Ujung Kulon yang wajib menjadi catatan dalam buku perjalanan anda sebagai destinasi yang wajib dikunjungi.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Copyright © 2015 Wisata Ujung Kulon - Taman Nasional Ujung Kulon All Right Reserved