Pulau Peucang

Minggu, 11 Desember 2016

Pulau Peucang

Heaven Island

peucang islandPulau peucang

Siapa yang tidak kenal dengan Pulau Peucang, bagi traveler nama Pulau ini sudah tidak asing lagi ditelinga mereka, bukan hanya sekedar wisatawan lokal, wisatawan asing pun sudah sangat sering datang untuk sekedar berkunjung, penelitian, atau mancing di Pulau yang memiliki luas ± 450Ha.

Asal Usul Pulau Peucang

Peucang adalah bahasa sunda yang artinya adalah kancil. Penduduk lokal disekitar Taman Nasional Ujung Kulon menyebut peucang dikarenakan sering menjumpai sejenis siput di pantainya, mereka menyebut siput tersebut sebagai "mata peucang" yang bentuknya seperti mata peucang, atau dalam bahasa Indonesia adalah mata kancil.

Pulau Peucang merupakan pulau yang berada diselat Panaitan Kabupaten Pandeglang Banten atau sebelah timur Taman Nasional Ujung Kulon.
Pulau ini masih termasuk dalam kawasan Tanam Nasiunal Ujung Kulon bersama dengan Pulau Panitan dan Pulau Handeleum

Objek Wisata

Hampir setiap bulan lokasi ini didatangi pengunjung baik lokal maupun asing, terlebih dibulan April sampai Juli penginapan di Pulau ini selalu penuh oleh pengunjung.

Pesona Pantai dan Bawah Laut

Pulau yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Ujung Kulon dan wajib mendatanginya memiliki pantai dengan bentangan pasir putih yang luas dan air laut yang tenang dan jernih ditambah lagi spot snorkeling dengan keindahan terumbu karang yang bisa membuat kita betah untuk berlama-lama menikmatinya.

Untuk para pecinta diving disekitar Pulau Peucang juga menyuguhkan pesona bawah laut yang sangat indah, dengan kedalaman yang beragam dan dihuni oleh ribuan jenis terumbu karang didalamnya, dan ribuat jeis biotanya yang masih terjaga sampai saat ini.

Daya Tarik

Flora 

kiara/ara pencekik

Pulau Peucang merupakan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, didominasi oleh tumbuhan merbau (intsia bijuga), ki hujan  (engelhardia serrata), bungur (lagerstroemia speciosa), palahlar (dipterocarpus haseltii).

Selain itu juga ada ara pencekik (ficus), parasit yang terbawa oleh burung atau monyet dan jatuh di dahan pohon, perlahan ara tumbuh dengan menumpang pada tubuh inangnya lalu ara menjadi besar hingga membunuh inangnya. Orang lokal memanggilnya dengan sebutan kiara.

Tumbuhan-tumbuhan tersebut dapat dijumpai ketika kita akan tracking menuju karang copong. Ada beberapa ara yang sangat besar, kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung dan selalu mengabadikan moment tersebut.

Satwa Penghuni

Setibanya di Pulau Peucang kita akan disambut oleh beberapa penghuni Pulau ini seperti monyet ekor panjang, Rusa, dan Babi hutan yang berkeliaran bebas disini.

Ketiga satwa tersebut memang sudah biasa bertemu dengan manusia jadi mereka tergolong tidak takut berada didekat manusia.
Berbagai faktor yang membuat mereka tidak takut berdekatan dengan manusia karena wistawan yang datang dan antusias dengan mereka sering memberikan makanan yang dibawa seperti roti, makanan berat, snack dan lain-lain sehingga hewan-hewan tersebut terbiasa memakan makanan yang diberikan manusia. Sebaiknya hal ini tidak terjadi, karena sudah pasti merubah kebiasaan alami mereka dan membuat ketergantungan terhadap manusia.

Hewan liar memiliki naluri untuk bertahan hidup dan berkembang dialamnya.Dengan tidak mengganggu habitatnya, tidak memberikan makanan apapun kepada mereka dan tidak membuang sisa makanan atau sampah dilokasi habitat mereka adalah suatu hal yang sangat bijak yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam
Sebenarnya bukan hanya ketiga satwa tadi saja yang menghuni Pulau Peucang, banyak satwa lainnya seperti Biawak, burung-burung, Merak hijau, Lutung, dan Buaya Muara yang sesekali terlihat di muara sebelah selatan pulau peucang.

Wisata Panorama

tracking
Disepanjang jalan menuju karang copong wisatawan disuguhkan pemandangan yang menawan, pepohonan yang menjulang tinggi, Rusa yang berkeliaran didalam hutan, burung-burung yang berkicau saling bersahutan, Merak hijau yang bertengger di akar-akar pepohonan dan berjalan disemak-semak dengan keanggunanya menjadi suguhan yang sangat istimewa bagi para wisatawan.

Udara yang sangat segar karena tidak adanya polusi udara, sangat terasa disetiap kali bernafas. Semua itu karena pulau ini sangat dijaga kelestariannya, tidak main main ditiap pulau dan lokasi Taman Nasional Ujung Kulon dibangun pos pengawasan dengan minimal 4 petugas yang menempati setiap lokasi daratan maupun lautan oleh Dinas Perhutani.

Tidak heran hutan ini terjaga dengan baik dari tangan-tangan yang ingin mengambil keuntungan dari hasil hutan ataupun laut.

Petugas Perhutani yang menjaga pun sangat sadar akan pentingnya kelangsungan alam dipulau ini, terbukti untuk membangun atau memperbaiki bangunan pos yang mereka tempati tidak menggunakan hasil hutan melainkan mengajukan kebutuhan material kepada kantor Pusat agar dikirimkan bahan baku yang dibutuhkan.

Jangankan untuk menebang pohon, pohon besar yang sudah tumbang akibat usia ataupun terlalu tinggi sama sekali tidak di ganggu dan dibiarkan apa adanya. Karena mereka sadar alam punya cara sendiri untuk kelangsungannya.

Fasilitas Pendukung Untuk Wisatawan


Terdapat beberapa penginapan yang tersedia bagi pengunjung yang ingin bermalam dan juga kamar mandi umum di Pulau ini

Home Stay



ada 2 bangunan homestay seperti ini terdapat beberapa kamar ditiap bangunanya dengan fasilitas sederhana, dan kamar mandi.

Bangunan ini sebetulnya milik perusahaan swasta yang bekerjasama dengan Perhutani. Selain memiliki 2 homestay mereka juga membangun kantin. Namun sangat disayangkan bangunan dengan fasilitas sederhana ini disewaka dengan harga yang cukup tinggi oleh perusahaan, Harga sewa permalam bangunan ini ada yang 600ribu sampai 800ribu.

Dikarenakan harga yang ditawarkan cukup tinggi, homestay ini sepi dari penyewa. Melihat kondisi ini, Januari 2017 Dinas Perhutani mengambil alih pengelolaan bangunan tersebut dan masuk kedalam Koperasi Perhutani. Namun belum bisa dipastikan harga yang ditawarkan untuk bermalam disini setelah diambil alih kepengurusannya oleh koperasi Perhutani, yang pasti harga sewa akan lebih murah dari sebelumnya.

Pusat Informasi



Pos pengawasan Pulau Peucang milik Perhutani ini selain untuk pengawasan juga sebagai pusat informasi bagi wisatawan yang ingin mendapatkan informasi apapun tentang Taman Nasional Ujung Kulon. Jika berkunjung ke Pulau Peucang, wisatawan wajib melapor dan mengisi buku tamu dan memberi tahu maksud dan tujuan datang.

Terdapat juga bangunan dari papan berbentuk panggung yang disebut Barak sebanyak 5 ruangan. Masing-masing ruangan berkapasitas maksimal 8 orang, namun bangunan ini tidak untuk disewakan, hanya digunakan untuk petugas Perhutani yang melakukan kunjungan atau tinjauan lokasi, dan mahasiswa yang sedang PKL di Pulau ini.

Wisatawan baik yang berkunjung untuk menikmati pemandangan, melakukan aktifitas berenang, snorkeling, diving dan memancing, merasakan sensasi dan kepuasan tersendiri yang tidak ada habisnya untuk selalu dikenang dan rindu untuk kembali.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Copyright © 2015 Wisata Ujung Kulon - Taman Nasional Ujung Kulon All Right Reserved